Showing posts with label Sesion III : Perang Bubat : Kasih Tak Sampai Antara Hayam Wuruk (Raja Majapahit) dan Puteri Dyah Pitaloka Citra resmi (Puteri Kerajaan Pajajaran). Show all posts
Showing posts with label Sesion III : Perang Bubat : Kasih Tak Sampai Antara Hayam Wuruk (Raja Majapahit) dan Puteri Dyah Pitaloka Citra resmi (Puteri Kerajaan Pajajaran). Show all posts

Sunday, 19 July 2020

Kisah Romantis, Tragis dan Heroik dibalik sejarah Kerajaan-kerajaan Hindu – Buddha di Indonesia (sesion III)

1.    Sesion III : Perang Bubat : Kasih Tak Sampai  Antara Hayam Wuruk (Raja Majapahit) dan Puteri Dyah Pitaloka Citra resmi (Puteri Kerajaan Pajajaran)

Masa Kejayaan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur terjadi dibawah kepemimpinan Hayam Wuruk dengan Maha Patih Gajah Mada pada tahun 1350, berawal dari Sumpah Palapa yang diikrarkan oleh Gajah Mada yaitu berbunyi “ Sira Gajah Mada pepatih amagkabhumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada : Lamun huwus kalah Nusantara Ingsun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Pelembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa” yang artinya “Bahwa Gajah Mada sebagai patih amangkabhumi tidak ingin melepaskan puasa, Gajah mada berkata Bahwa bila telah mengalahkan (mengasai Nusantara), saya (baru akan) melepaskan puasa, bila telah mengalahkan gurun, seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompu, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, dan demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa”. Ikrar ini diucapkan sebagai bentuk kecintaannya terhadap Majapahit yang suatu saat akan mewujudkan bersatunya wilayah nusantara bahkan hingga ke menguasai wilayah Malaysia dan Thailand. Dikatakan sumpah Palapa karena Palapa adalah nama sebuah buah yang rasanya tidak enak dan ini menunjukkan bahwa Gajah Mada tidak akan mengecap kesenangan dunia sebelum berhasil menyatukan Nusantara dibawah panji Majapahit.

Kisah Heroik dan Nasionalisme Gajah Mada harus ternoda oleh sebuah ambisi ketika hampir semua wilayah nusantara berhasil ditaklukan kecuali 1 wilayah yaitu kerajaan Pajajaran (Sunda) yang justru merupakan daerah terdekat dengan kerajaan Majapahit dan sebuah kerajaan kecil dibandingkan dengan besarnya kekuasaan Majapahit namun belum kunjung dapat ditaklukan oleh Gajah Mada. Kisah Cinta tak Sampai terjadi antara Raja Hayam Wuruk dan Puteri Dyah Pitaloka berawal ketika Hayam Wuruk seorang Raja berusia muda, Gagah dan cerdas yang mencari seorang calon isteri, maka disebarlah sayembara keseluruh daerah kekuasaan Majapahit termasuk disebarnya para pelukis ulung untuk melukis para putri dari berbagai kerajaan.

Setelah melihat lukisan para putri dari berbagai kerajaan namun tak ada satupun yang dapat memikat hati Raja Hayam Wuruk, sebaliknya Hayam Wuruk justru penasaran dengan kemasyuran kecantikan dari putri Pajajaran yaitu Puteri Dyah Pitaloka Citra Resmi yang sering ia dengar (konon ini diketahui karena diam diam beredar lukisan sang Putri Pajajaran di Majapahit), maka diutuslah pelukis untuk memindahkan kecantikan sang putri diatas sebuah lukisan. Begitu melihat lukisan Putri Dyah Pitaloka maka tertariklah hati Hayam Wuruk dan berniat meminangnya menjadi isteri dan Ratu Majapahit.

Diutusnya seorang pejabat bernama Madhu ke Pajajaran untuk melamar Putri Dyah Pitaloka disambut baik oleh raja Lingga Buana dan alangkah senangnya Raja ketika mengetahui lamaran yang diajukan oleh Raja Majapahit atas putrinya. Menjelang pernikahan berangkatlah rombongan Kerajaan Pajajaran  berlayar selama 10 hari menuju Majapahit dengan total 2.000 kapal disertai dengan rombongan dan iring-iringan dari para keluarga kerajaan sunda, pejabat dan para bangsawan dan kecuali Putra Mahkota yaitu Pangeran Niskala Wastu Kencana yang tetap di istana Kawali (dikarenakan istana yang ditinggalkan oleh Raja tidak boleh kosong maka sebagai putra mahkota, Pangeran Niskala Wastu kencana harus tetap menjaga tahta istana), sebenarnya sebelum rombongan berangkat timbul beberapa perdebatan mengenai pihak pengantin perempuan yang harus berangkat ke Majapahit karena menurut tradisi ini dianggap tidak lazim, namun karena demi menjaga hubungan baik (termasuk bahwa pendiri Majapahit yaitu Raden Wijaya merupakan keturunan Sunda) maka pihak kerajaan Pajajaran bersedia berangkat kepada pihak pengantin laki-laki.

Setibanya di Majapahit maka rombongan Pajajaran diterima dan beristirahat di sebuah lapangan di desa Bubat, Raja Hayam Wuruk yang hendak menyambut rombongan Pajajaran dihalangi oleh Gajah Mada dengan mengatakan bahwa sebagai Raja Besar sebaiknya Hayam Wuruk tidak langsung menyambut Kerajaan Pajajaran mengingat dikhawatirkan terjadi sesuatu diperjalanan dalam menyambut kerajaan Pajajaran. Mendengar perkembangan yang terjadi di Majapahit dan tidak ada utusan yang kunjung datang untuk menyambut rombongan Pajajaran hingga beberapa lama maka diutuslah utusan Pajajaran kepada Gajah Mada.

Kedatangan utusan Raja Pajajaran disambut langsung oleh Gajah Mada dikediamannya, namun setelah obrolan berlangsung maka diketahuilah niat Gajah Mada bukanlah menyelenggaran pernikahan antara Hayam Wuruk dan Putri Dyah Pitaloka namun justru menyatakan bahwa Putri adalah sebagai Upeti atau tanda bakti Pajajaran sebagai kerajaan bawahan (Vasal)  Majapahit. Jelas ini kemudian ditolak mentah mentah oleh pihak Kerajaan Pajajaran, dan Raja Lingga Buana menyatakan bahwa lebih baik perperang daripada menyatakan takluk kepada Majapahit dan menyerahkan sang Putri. Kaum perempuan yang menyertai iring-iringan diperintahkan untuk pulang kembali ke Pajajaran namun mereka menolak termasuk Isteri Raja Lingga Buana dan Putri Dyah Pitaloka, mereka ingin mendampingi Raja dan rombongan Pajajaran apapun yang terjadi nantinya.

Kedatangan Pasukan Majapahit yang dipimpin langsung oleh Gajah Mada ke Palagan Bubat (Lapangan Bubat) disambbut oleh prajurit rombongan Pajajaran yang tidak banyak jumlah nya dan tidak memiliki persenjataan lengkap mengingat mereka datang ke Majapahit adalah untuk melangsungkan upacara pernikahan bukan untuk berperang. Karena ketidakseimbangan kekuatan, pertempurann yang berlangsung sengit berakhir dengan kekalahan telak dipihak Pajajaran, semua orang Pajajaran tewas termasuk raja Lingga Buana, mendengar berita ini maka kaum perempuan termasuk isteri raja dan Putri Dyah Pitaloka juga para abdi melakukan bunuh diri hal ini bertujuan untuk menghindarkan mereka dijadikan budak atau hadiah bagi Majapahit, konon dikisahkan bahwa Putri Dyah Pitaloka bunuh diri menggunakan susuk sanggul yang juga bisa dijadikan senjata.

Dengan hati terluka mendengar berita yang terjadi di Palagan Bubat, maka segeralah datang Raja Hayam Wuruk ke desa Bubat namun sayang ketika ia tiba semua sudah terlambat dan ia menyaksikan semua orang Pajajara tewas termasuk kekasih hatinya Putri Dyah Pitaloka, seperti kepiluan yang digambarkan dalam Kidung sunda (Karya sastra kuno yang berbentuk syair dan tembang yang mengisahkan peristiwa Bubat) “Maka ditanyalah Dayang-dayang dimanakah gerangan Tuan Putri. Diberitahulah dimana ia berada, tidur. Datanglah Sri Baginda (Hayam Wuruk) dan melihatnya tertutup kain berwarna hijau keemasan diatas tanah. Setelah dibuka, terkejutlah sang Raja karena ia sudah menjadi mayat. Pucat mukanya mempesona, matanya sedikit membuka, bibirnya terlihat indah, gigi-giginya yang tak tertutup terlihat manis, seakan menyaingi keindahan sri gading. Seakan-akan ia menyapa “ Sri Paduka, datanglah kemari, lihatlah kekakih mu, berbakti, Sri Baginda, datang ke tanah Jawa. Yang senantiasa berada difikiran ayah dan ibu (ratu dan raja Pajajran) yang sangat mendambakannya. Itulah alasannya mereka ikut datang. Skarang jadinya seperti ini. Jika datang kemari dahulu, eahai rajaku, mungkin hamba masih hidup dan sekarang dinikahkan. Aduh ! sungguh kejam kuasa Tuhan”.

Itulah pertemuan pertama dan terakhir antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka, nyawa yang terlepas dari raga sang Putri membuat kepiluan dan kesedihan yang mendalam bagi Raja Hayam Wuruk, Cinta yang tak sampai ini menjadikan hubungan antara Hayam Wuruk dan Gajah Mada kemudian merenggang dan saat itu mulai pudarlah pengaruh Maha Patih Gajah Mada di Majapahit yang kemudian memilih untuk pensiun.

Ribuan hikmah yang bisa kita dapatkan dari kisah yang begitu mengharu biru ini, terlepas dari kisah mengenai perang Bubat yang masih Kontroversial namun sosok Gajah Mada yang saat ini dikatakan sebagai pelopor pemersatu Nusantara dengan visi dan misinya yang cemerlang dan melompat jauh kedepan adalah juga seorang manusia, karena seorang pemimpin itu bisa benar bisa juga salah. terlepas bahwa dia sebagai pahlawan yang namanya harum bersinar hingga ribuan tahun kedepan namun sebagai manusia Gajah mana pun memiliki cela, ketidaksempurnaan dan kekurangan yang juga dimiliki seperti manusia-manusia yang lainnya.

                                                                         

                                                                               Hayam Wuruk (Wikipedia)

                                                                Gajah Mada (Wikipedia)

Berakhirnya masa Pemerintahan Orde Baru

Soeharto mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei 1998 Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Soeharto#/media/Berkas:Jenderal_TNI_Soeharto.png ...