Showing posts with label Nusantara Antara Prancis. Show all posts
Showing posts with label Nusantara Antara Prancis. Show all posts

Sunday, 20 September 2020

Nusantara : Antara Prancis, Inggris dan Belanda (Bagian 1)


Tahukah kalian bahwa Nusantara secara tidak langsung pernah berada dibawah kekuasan Prancis dan Inggris? Mengapa dikatakan “tidak langsung” karena setelah VOC dinyatakan bangkrut pada 31 Desember 1799 dan kekuasan atas nusantara diambil alih oleh pemerintah Belanda, tidak lama berselang terjadi peristiwa penting di Eropa yang kemudian membuat gaduh seluruh daratan eropa hingga mampu menjatuhkan kekuasan Raja-raja Eropa yang berabad-abad berkuasa (Monarki Absolut) berganti dengan sistem pemerintahan Republik peristiwa tersebut adalah Revolusi Prancis 1789-1799.

Seperti juga negara-negara Eropa lainnya, Belanda termasuk salah satu negara yang terkena pengaruh dari Revolusi Prancis, dimana kemudian Belanda jatuh ketangan Prancis hingga Raja Belanda yaitu Raja Willem V (Willem Van Orange)  melarikan diri ke Inggris, dan  Napoleon (tokoh revolusi Prancis sekaligus penguasa Prancis pasca Revolusi Prancis) mengutus adiknya yaitu Louis Napoleon untuk memerintah di Belanda dibawah kekuasaan Prancis. Dengan jatuhnya Belanda ke tangan Prancis maka otomatis tanah jajahan Belanda termasuk Nusantara jatuh pula ketangan Prancis. Louis Napoleon kemudian menunjuk seorang pemuda Belanda yang menjadi simpatisan fanatik Revolusi Prancis yaitu Herman Willem Deandles (1808-1811) untuk memerintah di Nusantara, tugas Deandleas sederhana saja yaitu mempertahankan Nusantara (terutama Jawa) dari serangan Inggris yang telah bersengkongkol dengan Belanda untu mengembalikann kekuasaan Raja-Raja Eropa beserta tanah-tanah jajahannya. Sebutan masa dimana Nusantara berada dibawah kekuasaan “Prancis” disebut dnegan Republik Bataaf.

Jika kalian sering melewati Jalan Cadas Pangeran sebagai jalan arteri utama yang menghubungkan kota Sumedang dengan daerah daerah Priangan, maka saat itu kalian sedang “melewati” jalan karya Deandleas. Mengapa disebut dengan Cadas, karena jalan tersebut dibuat dengan cara memangkas Gunung batu yang sangat keras sehingga rakyat jelata yang pada saat itu dikerahkan untuk membuat jalan tersebut banyak yang menjadi korban hingga kemudian Deandleas menurunkan Pasukan khusus yang bernama Pasukan Zeni untuk menaklukan kerasnya gunung batu tersebut. Itu kita baru membahas tentang satu tempat yang menunjukan contoh karya program deandleas, maka jika kita membicarakan tentang seluruh Jalan karya Deandleas maka kita akan membicarakan tentang 1.100 KM yang disebut jalan Deandleas atau Jalan raya Pos (De Groote Postweg). Jalan ini terbentang sepanjang ujung barat pulau Jawa yaitu Anyer (Banten) hingga ujung Timur Jawa yaitu Panarukan.


Gambar : Herman Willem Deandles


Jalan Raya Deandles atau jalan Raya Pos dari Anyer - Panarukan

Mengapa Deadleas begitu bertekad mewujudkan jalan ‘terpanjang’ yang dibuat selama zaman kolonialisme? Hal ini tidak terlepas dari program Deandleas pada bidang keamanan dan pertahanan,  Karena tujuan dari dibuatnya jalan tersebut adalah agar mempermudah mobilisasi pasukan Deandleas jikalau pasukan Inggris menyerang Jawa.

Takdir bahwa akhirnya Inggris mampu mengalahkan Perancis jauh di Eropa sana ternyata kemudian berdampak pula pada nasib Nusantara karena setelah Perancis kalah dari inggris, maka dimulailah kekuasaan Inggris di Nusantara dengan Thomas stamford Raffles (1811-1816) sebagai kepanjanganan Inggris di Nusantara. Sebenarnya dapat dikatakan Raffles ingin “memberikan yang terbaik” bagi rakyat Nusantara setelah  mengalami perjalanan yang melelahkan dan meyakitkan akibat kerja rodi membangun jalan raya Pos, adapun Program-program Visioner Raffles adalah sebgaai berikut :

a.       Pengahapusan kerja rodi dan pajak wajib dianti dnegan penanaman bebas oleh rakyat

b.  Dihapuskannya pejabat lokal seperti bupati sebagai pihak yang memungkut langsung pajak kepada rakyat.

c.      Diberlakukannya sistem sewa tanah bagi rakyat yang menggapa tanah negara


Gambar :  Thomas stamford Raffles


Bunga Rafflesia Arnoldi

namun kemudian niat baik Raffles tidak berbanding lurus dengan kenyataan di lapangan, dimana karena dihapuskannya keterlibatan penguasa daerah sebagai “perantara” pemerintah kolonial, membuat program Raffles tidak dapat berjalan dengan baik, karena bagaimanapun dapat dikatakan bahwa penduduk lokal akan lebih taat dan manut apabila diperintah langsung oleh pejabat pribumi daripada oleh orang asing meskipun niat Raffles adalah ingin memutus sistem Feodalisme masyarakat yang dibedakan berdasarkan tingkat strata sosial. Raflles selain seorang Gubernur Jendral di Nusantara diapun adalah seorang pecinta Ilmu pengetahuan, karena terpesona oleh keindahan Nusantara apalagi Jawa maka Raffles kemudia membuat sebuah buku yang berjudul "The History Of Java" dan Raffles pun adalah tokoh yang menemukan secara ilmiah tentang keberadaan Bunga Raksasa yang ia temukan di hutan Bengkulu yang kemudian diberi nama ilmiah  "Rafflesia Arnoldi" atau Bunga Bangkai Raksasa. Dapat dikatakan secara umum Raffles gagal memberikan keuntungan yang berarti kepada inggris selama mengusai tanah Nusantara. Maka pada tahun 1814 terjadi Konvensi London yang isinya adalah Inggris mengembalikan tanah jajahan Hindia belanda kepada Belanda. Sejak itulah “benar-benar” dimulai pemerintahan Kolonial Belanda di Nusantara...


Berakhirnya masa Pemerintahan Orde Baru

Soeharto mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei 1998 Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Soeharto#/media/Berkas:Jenderal_TNI_Soeharto.png ...