
sumber Gambar Ahmad Soebardjo: https://indokliping.wordpress.com/2013/05/05/ahmad-subardjo-1896-1978/
Sejarah tercipta dari kumpulan-kumpulan usaha dari para penggerak sejarah itu sendiri yaitu manusia, para penggerak itu melakukan usaha-usaha yang dilakukan secara terus menerus dan berani sehingga terhimpun dan menciptakan peluang dari sebuah takdir yang dicita-citakan bersama. Katakanlah ketika cita-cita Indonesia Merdeka digaungkan para pendiri bangsa, maka tidak mungkin Indonesia merdeka tanpa adanya usaha-usaha yang berani dan berkelanjutan dari para pejuang, meskipun cita-cita merdeka bukanlah hal yang mudah dan sebentar namun usaha-usaha yang dilakukan selama ratusan tahun dari generasi ke generasi kemudian menciptakan gelombang yang tiada terputus dan berkelanjutan sehingga terciptalah sebuah Takdir yang tentu saja untuk mewujudkannya dibutuhkan sebuah momentum yang menentukan, dan sering kali momentum itu dibutuhkan langkah berani karena mungkin terjadi hanya sekali sepanjang sejarah dan hanya sebentar saja sehingga dibutuhkan tindakan dan keputusan yang tepat juga serba cepat, yang jika momentum itu terlewati maka dapat dipastikan bahwa takdir akan pencapaian cita-cita sejarah tidak mungkin terwujud.
Tengoklah sejenak kilasan sejarah perjalanan bangsa ini dimulai, ketika hanya dalam waktu 3 hari saja (15-17 Agustus 1945) menjadi sebuah momentum“detik-detik” menentukan dari Takdir bangsa ini, dari mana momentum ini bermula? Bermula dari dijatuhkannya Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus di Jepang oleh pihak sekutu yang sudah lelah dan ingin segera mengakhiri peperangan dengan sekali pukulan telak, semenjak itulah Jepang yang awalnya hampir saja menguasai kemenangan di Perang Pasifik Raya diluluhlantakan seketika hingga menyerah kalah pada Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945. Menyerahnya Jepang pada Sekutu secara langsung menciptakan status “Vacuum Of Power” atau Kekosongan Kekuasaan didaerah-daerah yang menjadi kekuasaan Jepang salah satunya adalah Indonesia.
Momentum penting ini kemudian ditangkap dengan baik oleh para pemuda yang tergabung dalam gerakan “bawah tanah” terutama oleh Sutan Syahrir yang pada tanggal 15 Agustus 1945 berhasil menangkap siaran radio yang menyiarkan berita mengenai kakalahan dan menyerahnya Jepang, tentu kita harus tahu bahwa meski saat itu Jepang yang dalam keadaan terdesak hingga menyatakan kalah masih saja berupra-pura bahwa semuanya baik-baik saja hingga berita mengenai kekalahannya berusaha ditutup-tutupi bahkan siara-siaran informasi public saat itu seperti stasiun radio melarang mengumumkan berita penting tersebut, namun inilah momentum “menciptakan peluang” dan berhasilnya para pemuda dalam mendapatkan informasi berharga tersebut merupakan celah yang diciptakan sedemikian rupa sehingga Tuhan membantu dengan menciptakan celah yng tidak mungkin menjadi mungkin dan yang sulit menjadi mudah.
Segera setelah mendapatkan informasi tersebut Sutan syahrir menemui Bung Hatta dan Bung Karno mendesak untuk segera mengumumkan Proklamasi, namun usul ini ditolak karena menurut Soekarno dan Hatta kemerdekaan bukanlah sesuatu yang harus dilakukan secara terburu-buru tanpa perhitungan dan persetujuan dari PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang dibentuk Jepang yang telah menjanjikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 7 September 1945), tak ingin menyerah pada keputusan Soekrano-Hatta para pemuda pada malam pukul 21.30 dihari yang sama (15 Agustus 1945) kembali mendatangi rumah soekarno yang dipimpin oleh Wikana dan Darwis sehingga terjadilah bercakapan yang melegenda :
Wikana : “Bung…apabila Bung Karno tidak mengumunkan kemerdekaan malam ini juga, besok akan terjadi pertumpahan darah…”
Soekarno bangkit dari duduk dan nampak marah kemudian berjalan menuju Wikana sambil membuka krah baju dan berucap “Ini gorok leher saya, seretlah saya ke pojok itu, ambil nyawa saya malam ini juga, jangan menunggu besok “
Wikana terperanjat setelah meilhat sikap dan bentakan Soekarno, suasana menjadi semakin tegang hingga kemudian Soekarno berkata “ Saya tidak bisa melepas tanggung jawab saya sebagai ketua PPKI, karena itu saya akan tanyakan kepada wakil-wakil PPKI besok”
Gagal membujuk golongan tua untuk segera mengumumkan kemerdekaan, malam itu juga pada pukul 24.00 para pemuda kembali berkumpul dan berdiskusi mengenai langkah selanjutnya, maka diputuskanlah untuk membawa Soekarno dan Hatta keluar dari Jakarta dengan tujuan menjauhkan mereka dari pengaruh Jepang dan kembali mendesak Proklamasi kemerdekaan Indonesia. Singgih kemudian ditunjuk untuk memimpin Operasi “penculikan” tersebut dan tepat pada pukul 04.00 dini hari tanggal 16 Agustus 1945 disaat Soekarno sedang sahur dan juga penjemputan Hatta terjadi, peristiwa Penculikan yang amat termasyur disebut dengan “Penculikan Rengasdengklok”.
Kegemparan terjadi di Jakarta ketika pada tanggal 16 Agustus 1945 ketika seharusnya rapat PPKI berlangsung namun ternyata Soekarno dan Hatta menghilang, setelah ditelusuri oleh Subardjo ternyata Soekarno dan Hatta diculik ke Rengasdengklok-Karawang, dan terjadilah kesepakatan antara Golongan Tua yang diwakili oleh Ahmad Subardjo dan Golongan Muda yang diwakili oleh Wikana hingga Wikana kemudian mengizinkan Subardjo menjemput Soekarno ke Rengasdengklok untuk membawa kembali Soekarno-Hatta ke Jakarta. Pada pukul 17.30 sore hari tibalah Subardjo di Rengasdengklok namun golongan muda masih mencurigai dan belum sepenuhnya yakin apakah dengan kembalinya Soekarno-Hatta ke Jakarta, Proklamasi kemerdekaan akan dapat dilakukan? Maka kembalilah terjadi percakapan yang termasyur antara Subardjo sebagai penjamin dan Subeno dari golongan pemuda
Subeno : “Apa Proklamasi dapat dilakukan sebelum tengah malam nanti?”
Subardjo : “ Tidak mungkin, sekarang sudah sekitar jam delapan malam, kita masih harus ke Jakarta, lalu mengundang para anggota PPKI untuk rapat kilat, itu minta banyak waktu, kami khawatir harus bekerja semalam suntuk untuk mengerjakannya”
Subeno : “bagaimana kalau jam enam besok pagi (17 agustus 1945)”
Subardjo : “saya akan berusaha sekuat tenaga agar dapat selesai pada jam enam pagi, tetapi sekitar tengah hari besok pasti sudah beres”
Subeno : :Bagaimana kalau tidak?”
Subardjo : “Mayor, kalu semua gagal, besok siang tanggal 17 agustus jam 12.00 belum terjadi Proklamasi jaminannya saya, sayalah yang bertanggung jawab, tembak matilah saya”
Petang itu juga Sobardjo membawa kembali Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta dan berakhirlah peristiwa Rengasdengklok…
Peristiwa selanjutnya adalah usaha-usaha penting yang serba cepat yang terjadi hanya dalam hitungan jam saja namun menjadi penentu penting dari eksistensi bangsa Indonesia sebagai Bangsa dan Negara merdeka yang menjadi cita-cita berabad-abad bangsa ini.